Welcome to Indah's blog Please read my story and give your comment :)

Sabtu, 24 November 2012

Penyesalanku


             Kalian boleh memanggilku seorang gadis pengecut yang selalu mau jatuh di lubang yang sama. Tidak memikirkan keadaan dirinya, hanya mementingkan kebahagiaan seseorang yang ia cintai. Panggil saja, aku Rara sih gadis pengecut itu. Aku baru saja masuk di universitas di kotaku, disinilah awal dari semua kisah cintaku.

 Aku mulai menyukainya pada saat ku melihat dia pertama kali dikampus, bisa dibilang pandangan pertamaku. Saat itu aku masih sekedar menyukainya belum ada setitikpun perasaanku untuk mencintainya. Karena aku bukan tipe cewek yang mudah mencintai seseorang.

            Sebelum aku resmi menjadi mahasiswi disini, aku harus melewati ospek, ya tanpa aku jelasin mungkin kalian sudah tahu artinya. Pada saat ini lah aku lebih sering memperhatikan segala tingkahnya. Dan perasaanku mulai tumbuh, aku mulai mengagumi dia, yang sampai saat ini tidak ku tahui namanya.

            Ospek pun berakhir dan aku resmi menjadi mahasiswi di kampus baruku. Hal yang paling aku sukai adalah cowok yang kukagumi sekarang menjadi teman sekelasku.
Tapi aku tidak berani untuk menyapanya, aku terlalu malu untuk memulai sebuah perkenalan.
“Hei, kenalin namaku Putra”
            “Ohh hei juga, namaku Rara”
            “Boleh aku duduk disebelahmu, Ra?”
            “Oh tentu saja, tidak ada seorang pun yang duduk disebelahku.”

                       "Kini aku mengenalinya, seorang cowok berlesung pipi "

Kini aku tahu siapa nama seorang cowok yang aku kagumi. Putra namanya, ya  bagiku itu adalah nama yang sangat bagus dan istimewa. Putra,  seorang cowok yang mempunyai paras ganteng, berkulit putih, beralis tebal, dan mempunyai lesung pipi di pipinya yang membuat wanita tergila-gila jika melihat senyumnya.
Aku tidak menyangka seorang yang aku kagumi kini berada tepat disebelahku. Tapi mengapa harus aku? Sepertinya banyak cewek yang sedari tadi menawarkan untuk duduk disebalahnya, mengapa dia menolak? Dan mengapa dia memilihku? Itu yang masih aku pertanyakan.
Dihari pertama kuliah ini kami disuruh untuk saling mengenal. Tidak ada mata kuliah hari ini. Saat inilah aku dan Putra saling mengenal satu sama lain. Banyak yang kami ceritakan, baik hal yang menyedihkan maupun yang menyenangkan.  Namun, tak terasa waktu kuliah ku untuk hari pertama ini selesai, rasanya aku tidak ingin menghentikan pembicaraan ini , karena aku ingin lebih mengenal Putra lebih jauh. Tapi sudahlah masih ada hari esok untuk melanjutkannya, pikirku.

            Pada saat dirumah pun aku masih membayangkan hal yang barusan terjadi, hal yang sangat indah  bagiku, bertatap muka dengan seseorang yang aku kagumi. Aku dapat melihat lebih jelas senyuman yang manis itu. Ingin ku percepat waktu untuk dapat bertemu dengan Putra esok hari. 

            Keesokan harinya aku datang lebih awal, tidak biasanya aku dapat bangun sepagi ini. Mungkin ini karena aku ingin melihat Putra hehehe...
Saat ku melangkah masuk ke kelas, ku lihat Putra belum tampak disana dan kelas masih tampak sepi, mungkin aku terlalu bersemangat sampai-sampai datang sepagi ini. Dengan segera aku duduk dan membaca novel kesukaanku. Tidak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki yang semakin mendekatiku.

 “Ehh Rara, kamu udah dateng ternyata”
 “Ohh Putra ternyata aku kira siapa, iya nih ntah mengapa hari ini aku semangat sekali masuk kuliah.”
 “Aku tahu, pasti kamu ingin cepet-cepet lihat aku kan?” sambil tertawa kecil.
 “Ahh..kamu keGr-an sekali ya Put.”

            Saat Putra duduk di sebelah ku, aku merasakan detak jantung ku semakin cepat berdetak, apakah ini yang dinamakan cinta. Saat dia ada berada di dekat kita, kita merasakan ketenangan yang membuat kita tidak ingin jauh darinya. Tapi disisi lain aku juga merasakan ketakutan tentang cinta. Ketakutan ku untuk kehilangan cinta kedua kalinya membuatku harus berpikir panjang untuk mencintai seseorang lagi.

.....
“Aku seakan tidak ingat rasa sakit karena cinta”

            Hari demi hari aku lalui bersama Putra, tanpa ada status yang terjalin diantara kita berdua. Kami hanya sibuk mengukir kenangan manis, kenangan yang tidak dapat aku lupakan. Putra selalu ada disaat aku membutuhkannya, dia selalu memberikan perhatiannya kepadaku, seakan-akan aku adalah seseorang yang spesial dihati nya.
Pada saat inilah aku mengukir namanya dengan indah, aku seakan tidak mengingat rasa sakit yang pernah aku alami karena cinta.

            Hingga suatu hari Putra mengajak ku untuk pergi ke taman. Aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi. Aku harus tampil cantik dihadapan Putra, aku tidak ingin melihat kan satupun kekurangan ku dihadapan Putra.

“Wowww..kamu sangat cantik Ra.”
“Hmm..gombalnya keluar nih.”
“Aku gak gombal, tapi kenyataannya kamu memang cantik. Untuk apa aku berkata bohong.”
“Iya deh iya, makasih ya Put. Oh iya ada apa kamu mengajak ku kesini?”
“Begini Ra sebenarnya aku mengajak kamu kesini karena....”
“Karena apa? Jangan buat aku penasaran deh.”
“Karena aku ingin menyatakan perasaan ku ke kamu Ra.”

Aku terdiam sesaat. Saat itu perasaan ku campur aduk, disisi lain aku merasakan senang yang luar biasa, tapi disisi lain aku merasakan takut yang sangat besar karena aku belum mengenal Putra lebih jauh dan aku selama ini tidak tahu apa yang dirasakan Putra saat dia bersamaku.

“Aku menyukai mu Ra, aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Kamu mau menjadi pacar ku, Ra?”

Aku melihat Putra mengeluarkan setangkai bunga mawar yang cantik di hadapanku. Aku bingung untuk menjawabnya. Memang aku sangat ingin menjadi seseorang yang spesial dihati nya, tapi aku takut Putra akan mengecewakan ku.

“Jujur Put, aku memang menyukai mu saat pandangan pertama. Lalu perasaan itu tumbuh dengan seiringnya waktu dan banyaknya kenangan yang kita lalui bersama. Tapi aku belum mengetahui apakah kamu benar-benar serius kepadaku.”
“Aku serius mencintaimu Ra, aku tidak akan mengecewakan mu. Aku berjanji Ra.

Aku pun berdiam cukup lama untuk mempertimbangkan semuanya. Aku meyakinkan hatiku untuk dapat menerima kehadiran Putra di hidupku.

“Baiklah, aku mau menjadi pacar mu. Tapi berjanji lah kepadaku untuk tidak mengecewakan ku. Dan tidak akan berubah.”
“Iya aku berjanji akan selalu menjaga hatimu apapun yang terjadi. Terima kasih sayang.” (sambil memeluk ku erat)

                                                                         To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

> >