Sekarang
hari-hariku ditemani seseorang yang aku tunggu kehadirannya dihidupku.
Perasaanku tak dapat diungkapkan lagi. Hubunganku bersama Kevin diselimuti
dengan kebahagiaan, senang dan duka kami selalu hadapi bersama. Dulu bagiku
untuk dapat bersama Kevin adalah sebuah angan-angan semu, yang tak mungkin
dapat terwujud. Tapi ternyata sekarang adalah sebuah mimpi yang terwujud dengan
begitu indah.
Hari kelulusan pun tiba,bisa
jadi hubunganku bersama Kevin juga akan berakhir. Karena Kevin ingin
melanjutkan studynya di luar negeri, melanjutkan beasiswa yang di dapatkannya.
Hanya begini kisah cintaku bersama Kevin? Sangat tidak seimbang dengan lamanya
penantianku.
“Cintya
aku akan melanjutkan kuliah ku di luar negeri, melanjutkan beasiswa yang ku
dapati. Aku akan melanjutkannya di Jepang.”
“Aku
sangat senang mendengarnya.”
“Tapii..”
“Tapi apa Vin, seharusnya
kamu senang sayang.”
“Iya
aku memang senang, karena ini adalah cita-citaku sejak dulu. Tapi aku akan
meninggalkanmu Cintya.”
“Sudahlah
sayang, itu adalah impianmu sejak dulu. Sekarang kamu mendapatinya dengan kerja
kerasmu. Aku tak ingin menjadi seseorang yang menghalangimu menggapai cita-cita
yang kamu impikan. Aku akan baik-baik saja.”
“Aku
sangat lama disana. Bagaimana dengan hubungan ini? Dapatkah kamu menungguku
selama itu?”
“Jika
kita saling percaya dan memahami, mungkin hubungan ini akan baik-baik saja.
Sudahlah jangan kamu pikirkan, jodoh tidak lari kemana sayang.”
“Baiklah
sayang, kamu memang yang terbaik untukku. Kita pulang sekarang ya sayang.”
“Siap
kapten.”
Andai Kevin tahu bagaimana
perasaanku saat ini, aku mencoba tegar dihadapannya menahan air mata yang ingin
keluar untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Padahal sesungguhnya aku
sangat hancur, semangatku seakan melayang pergi. Bagaimana tidak hancur
hari-hariku yang selalu dilewati bersama Kevin kini tidak kudapati lagi. Yang
ku pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana caraku untuk dapat bertahan tanpa
Kevin di sampingku.
Waktu-waktuku
hanya kuhabiskan untuk menangisi Kevin. Beberapa hari ini aku memang tidak
memberikan kabar kepada Kevin, hatiku sangat berat untuk melepaskan Kevin
pergi.
Tok..tok.. (terdengar suara
ketukan dari luar kamarku). Tapi aku tak menghiraukannya. Aku tetap duduk
memeluk lututku sambil meneteskan air mata yang tak dapat ku hentikan.
“Hey Cintya....”
Air
mataku berhenti mengalir, tanganku tidak hentinya mengahapus sisa air mata yang
ada di pipiku, dan aku mulai mencerna suara yang baru aku dengar tadi,
sepertinya aku mengenal suara lembut itu
“Hey Cintya...”
Kedua kalinya aku mendengar suara itu, dan aku
mulai yakin bahwa itu Kevin.
“Kevin?? Ada perlu apa kamu kerumahku?” (sambil
menghapus air mata)
“Aku merindukanmu sayang, kenapa kamu tidak
memberikanku kabar. Setiap pesan yang ku kirim kamu tidak pernah membalasnya,
apa yang terjadi?”
Aku
hanya dapat terdiam, dan air mataku mengalir untuk kesekian kalinya. Ku
tundukkan kepalaku dan ku kulum bibirku untuk tidak berbicara.
“Hey kenapa kamu menangis sayang? Aku disini
disampingmu. Apa yang kamu takuti lagi?”
Segera ku memeluk Kevin dengan erat seakan aku
tidak ingin melepaskannya dari pelukanku.
“Aku....aku sangat menyayangimu Kevin, aku tidak
bisa merelakanmu pergi jauh dari pandanganku.” (bisikku sambil tersedu-sedu)
“Sudah sayangku jangan menangis lagi, sekarang aku
ada disini untukmu. Aku tak ingin melihat kesedihanmu, sekarang tersenyumlah.”
Aku
melepaskan pelukanku dan menatap mata indah Kevin yang penuh harap untuk dapat
melihatku tersenyum. Perlahan aku mulai menunjukkan senyuman palsuku dihadapan
Kevin. Dengan lembutnya menghapus air mataku. Segera aku memeluk Kevin untuk
kedua kalinya.
“Aku
sangat mencintaimu Kevin, sampai kapanpun. Karena kamulah cinta pertamaku.”
“Aku juga sangat mencintaimu, berjanjilah padaku
untuk tetap tersenyum walau nanti aku tidak ada disampingmu dalam beberapa waktu
yang lama.”
....
Pagi ini adalah hari
keberangkatan Kevin ke Jepang. Secepatnya aku bangun dan mempersiapkan diri
untuk ikut mengantarkan Kevin ke Bandara. Rasanya aku ingin memperlambat waktu,
aku tak mau terlalu cepat melepaskan Kevin. Berat rasa hatiku pagi ini,
semangatku untuk
tersenyum tidak ada
lagi. Yang ingin ku lakukan hanya menangis sepuas-puasnya.
Sesampainya aku di
Bandara, dari kejauhan terlihat Kevin sedang mencari seseorang dengan muka
cemas. Mungkin dia mencariku, menunggu kehadiranku untuk melihatnya terakhir
kalinya. Kuatkan aku Tuhan untuk menatap matanya, dan bantu aku untu
merelakannya pergi.
“Kevinn...” (panggilku dari
balik belakang)
“Ya ampun akhirnya kamu datang juga sayang, dari
tadi aku gelisah menunggumu, aku kira kamu tidak akan datang untuk
mengantarku.”
“Tidak mungkin aku tidak datang.” (sambil tersenyum
palsu)
“Hari ini kamu tampak berbeda sayang.”
“Aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja.”
“Baguslah jika kamu baik-baik saja, itu membuatku
sedikit lebih tenang. Selama aku pergi ingat janjimu untuk tetap tersenyum dan
bersemangat menghadapi hari-harimu ya.”
“Iya aku janji untukmu, kamu disana jaga
kesehatanmu dan paling utama jaga hatimu selalu untukku ya Kevin.”
“Itu pasti sayang, sabarlah menungguku. Aku akan
kembali untukmu. Jagalah dirimu baik-baik. Raihlah apa yang kamu impikan ya
sayang.”
“Baiklah.” (kupeluk Kevin terakhir kalinya)
Kali
ini aku tidak menangis, hatiku mulai bisa merelakannya pergi. Ku peluk Kevin
lebih lama untuk terakhir kalinya. Waktu keberangkatan Kevin sudah tiba, ku
antarkan Kevin dan ku genggam erat tangannya.
“Sampai disini ya sayang, terima kasih sudah
mengantarkanku. Ingatlah pesanku dan tepatilah untukku. Aku yakin kamu bisa.”
“Iya
aku akan mencobanya. Selamat jalan sayang. Jangan lupakan aku.”
Kulihat
Kevin mulai pergi menjauhiku, hingga tidak ku lihat lagi bayangannya. Seketika
itu air mataku mulai menetes, tak bisa ku tahan lagi. Aku segera berlari
meninggalkan bandara sambil menangis. Inginku berteriak sepuas-puasnya untuk
menghilangkan kesedihanku.
Hari-hari ku lewati tanpa kehadiran
Kevin, dan aku mulai terbiasa tanpa ada bayangannya disisiku. Ku habiskan
waktuku untuk meneruskan kuliahku dengan serius. Aku bertekad suatu hari nanti
ketika Kevin pulang, dia akan tersenyum bangga melihatku telah menjadi orang
yang sukses seperti yang ia inginkan.
.....
Sudah tiga tahun ku lewati
hidupku tanpa Kevin, dan aku tidak tahu kapan
ia akan pulang untuk menepati janjinya bertemu denganku lagi. Mungkin
dia tidak akan pulang atau mungkin dia telah melupakanku sebagai cinta
pertamanya
to be continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar