Welcome to Indah's blog Please read my story and give your comment :)

Kamis, 01 November 2012

Let You Go Far Away (part2)


                                         
Sekarang hari-hariku ditemani seseorang yang aku tunggu kehadirannya dihidupku. Perasaanku tak dapat diungkapkan lagi. Hubunganku bersama Kevin diselimuti dengan kebahagiaan, senang dan duka kami selalu hadapi bersama. Dulu bagiku untuk dapat bersama Kevin adalah sebuah angan-angan semu, yang tak mungkin dapat terwujud. Tapi ternyata sekarang adalah sebuah mimpi yang terwujud dengan begitu indah.
Hari kelulusan pun tiba,bisa jadi hubunganku bersama Kevin juga akan berakhir. Karena Kevin ingin melanjutkan studynya di luar negeri, melanjutkan beasiswa yang di dapatkannya. Hanya begini kisah cintaku bersama Kevin? Sangat tidak seimbang dengan lamanya penantianku.
“Cintya aku akan melanjutkan kuliah ku di luar negeri, melanjutkan beasiswa yang ku dapati. Aku akan melanjutkannya di Jepang.”
“Aku sangat senang mendengarnya.”
“Tapii..”
“Tapi apa Vin, seharusnya kamu senang sayang.”
“Iya aku memang senang, karena ini adalah cita-citaku sejak dulu. Tapi aku akan meninggalkanmu Cintya.”
“Sudahlah sayang, itu adalah impianmu sejak dulu. Sekarang kamu mendapatinya dengan kerja kerasmu. Aku tak ingin menjadi seseorang yang menghalangimu menggapai cita-cita yang kamu impikan. Aku akan baik-baik saja.”
“Aku sangat lama disana. Bagaimana dengan hubungan ini? Dapatkah kamu menungguku selama itu?”
“Jika kita saling percaya dan memahami, mungkin hubungan ini akan baik-baik saja. Sudahlah jangan kamu pikirkan, jodoh tidak lari kemana sayang.”
“Baiklah sayang, kamu memang yang terbaik untukku. Kita pulang sekarang ya sayang.”
“Siap kapten.”

                Andai Kevin tahu bagaimana perasaanku saat ini, aku mencoba tegar dihadapannya menahan air mata yang ingin keluar untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Padahal sesungguhnya aku sangat hancur, semangatku seakan melayang pergi. Bagaimana tidak hancur hari-hariku yang selalu dilewati bersama Kevin kini tidak kudapati lagi. Yang ku pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana caraku untuk dapat bertahan tanpa Kevin di sampingku.
Waktu-waktuku hanya kuhabiskan untuk menangisi Kevin. Beberapa hari ini aku memang tidak memberikan kabar kepada Kevin, hatiku sangat berat untuk melepaskan Kevin pergi.
                Tok..tok.. (terdengar suara ketukan dari luar kamarku). Tapi aku tak menghiraukannya. Aku tetap duduk memeluk lututku sambil meneteskan air mata yang tak dapat ku hentikan.

            “Hey Cintya....”

Air mataku berhenti mengalir, tanganku tidak hentinya mengahapus sisa air mata yang ada di pipiku, dan aku mulai mencerna suara yang baru aku dengar tadi, sepertinya aku mengenal suara lembut itu

“Hey Cintya...”
Kedua kalinya aku mendengar suara itu, dan aku mulai yakin bahwa itu Kevin.
“Kevin?? Ada perlu apa kamu kerumahku?” (sambil menghapus air mata)
“Aku merindukanmu sayang, kenapa kamu tidak memberikanku kabar. Setiap pesan yang ku kirim kamu tidak pernah membalasnya, apa yang terjadi?”

Aku hanya dapat terdiam, dan air mataku mengalir untuk kesekian kalinya. Ku tundukkan kepalaku dan ku kulum bibirku untuk tidak berbicara.

“Hey kenapa kamu menangis sayang? Aku disini disampingmu. Apa yang kamu takuti lagi?”
Segera ku memeluk Kevin dengan erat seakan aku tidak ingin melepaskannya dari pelukanku.
“Aku....aku sangat menyayangimu Kevin, aku tidak bisa merelakanmu pergi jauh dari pandanganku.” (bisikku sambil tersedu-sedu)
“Sudah sayangku jangan menangis lagi, sekarang aku ada disini untukmu. Aku tak ingin melihat kesedihanmu, sekarang tersenyumlah.”

Aku melepaskan pelukanku dan menatap mata indah Kevin yang penuh harap untuk dapat melihatku tersenyum. Perlahan aku mulai menunjukkan senyuman palsuku dihadapan Kevin. Dengan lembutnya menghapus air mataku. Segera aku memeluk Kevin untuk kedua kalinya.

“Aku sangat mencintaimu Kevin, sampai kapanpun. Karena kamulah cinta pertamaku.”
“Aku juga sangat mencintaimu, berjanjilah padaku untuk tetap tersenyum walau nanti aku  tidak ada disampingmu dalam beberapa waktu yang lama.”
....

                Pagi ini adalah hari keberangkatan Kevin ke Jepang. Secepatnya aku bangun dan mempersiapkan diri untuk ikut mengantarkan Kevin ke Bandara. Rasanya aku ingin memperlambat waktu, aku tak mau terlalu cepat melepaskan Kevin. Berat rasa hatiku pagi ini, semangatku untuk
tersenyum tidak ada lagi. Yang ingin ku lakukan hanya menangis sepuas-puasnya.
Sesampainya aku di Bandara, dari kejauhan terlihat Kevin sedang mencari seseorang dengan muka cemas. Mungkin dia mencariku, menunggu kehadiranku untuk melihatnya terakhir kalinya. Kuatkan aku Tuhan untuk menatap matanya, dan bantu aku untu merelakannya pergi.

            “Kevinn...” (panggilku dari balik belakang)
“Ya ampun akhirnya kamu datang juga sayang, dari tadi aku gelisah menunggumu, aku kira kamu tidak akan datang untuk mengantarku.”
“Tidak mungkin aku tidak datang.” (sambil tersenyum palsu)
“Hari ini kamu tampak berbeda sayang.”
“Aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja.”
“Baguslah jika kamu baik-baik saja, itu membuatku sedikit lebih tenang. Selama aku pergi ingat janjimu untuk tetap tersenyum dan bersemangat menghadapi hari-harimu ya.”
“Iya aku janji untukmu, kamu disana jaga kesehatanmu dan paling utama jaga hatimu selalu untukku ya Kevin.”
“Itu pasti sayang, sabarlah menungguku. Aku akan kembali untukmu. Jagalah dirimu baik-baik. Raihlah apa yang kamu impikan ya sayang.”
“Baiklah.” (kupeluk Kevin terakhir kalinya)

Kali ini aku tidak menangis, hatiku mulai bisa merelakannya pergi. Ku peluk Kevin lebih lama untuk terakhir kalinya. Waktu keberangkatan Kevin sudah tiba, ku antarkan Kevin dan ku genggam erat tangannya.

“Sampai disini ya sayang, terima kasih sudah mengantarkanku. Ingatlah pesanku dan tepatilah untukku. Aku yakin kamu bisa.”
“Iya aku akan mencobanya. Selamat jalan sayang. Jangan lupakan aku.”

Kulihat Kevin mulai pergi menjauhiku, hingga tidak ku lihat lagi bayangannya. Seketika itu air mataku mulai menetes, tak bisa ku tahan lagi. Aku segera berlari meninggalkan bandara sambil menangis. Inginku berteriak sepuas-puasnya untuk menghilangkan kesedihanku.

                Hari-hari ku lewati tanpa kehadiran Kevin, dan aku mulai terbiasa tanpa ada bayangannya disisiku. Ku habiskan waktuku untuk meneruskan kuliahku dengan serius. Aku bertekad suatu hari nanti ketika Kevin pulang, dia akan tersenyum bangga melihatku telah menjadi orang yang sukses seperti yang ia inginkan.
.....

                Sudah tiga tahun ku lewati hidupku tanpa Kevin, dan aku tidak tahu kapan  ia akan pulang untuk menepati janjinya bertemu denganku lagi. Mungkin dia tidak akan pulang atau mungkin dia telah melupakanku sebagai cinta pertamanya

                                                                                to be continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

> >